sumber: https://tafsirweb.com/6163-surat-an-nur-ayat-35.html |
"Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tidak (hanya) berasal dari timur (dan) tidak (pula) dari barat, yang minyaknya hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya. Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. An-Nur: 35).
Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh
Allah adalah cahaya langit dan bumi, pemberi petunjuk kepada semua makhluk yang tinggal pada keduanya. Perumpamaan cahaya Allah dalam hati seorang mukmin adalah seperti satu lubang yang tak tembus di suatu dinding,yang di dalamnya ada pelita. Pelita itu ditempatkan dalam kaca bening seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak yang berasal dari pohon yang berkah, yaitu pohon zaitun yang tumbuh di tempat yang tidak dihalangi oleh sesuatupun dari sinar matahari, baik di pagi atau sore hari. Lantaran kemurnian minyaknya, maka ia hampir saja bercahaya dan menerangi walaupun tidak disentuh api, lalu bagaimana bila disentuh oleh api?! Cahaya lampu berada dalam cahaya kaca (cahaya yang berlapis-lapis). Beginilah perumpamaan hati seorang mukmin bila di dalamnya bersinar cahaya petunjuk. Allah membimbing kepada cahaya-Nya, yaitu Al-Qur`ān, siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Dan Allah menjelaskan banyak perkara dengan membuat perumpamaan-perumpamaan. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dari-Nya. (Referensi : https://tafsirweb.com/6163-surat-an-nur-ayat-35.html)
Cahaya dan Perkembangan Teknologi Lampu
Konsep cahaya yang disebutkan dalam Al-Qur’an dapat dikaitkan dengan bagaimana manusia memahami dan mengembangkan teknologi pencahayaan dari masa ke masa. Beberapa prinsip dalam ayat ini memiliki kesamaan dengan perkembangan lampu modern, di antaranya:
>Pelita dalam Kaca: Prinsip Lampu Bohlam
- Ayat ini menyebutkan "pelita di dalam kaca", yang secara teknis sama dengan lampu teplok yang digunakan jaman dulu dan menyerupai lampu pijar yang kita gunakan saat ini. Thomas Edison menemukan bahwa dengan menempatkan kawat pijar di dalam kaca vakum, ia dapat menghasilkan cahaya yang lebih tahan lama dan terang.
- Minyak zaitun dalam ayat ini menggambarkan sumber bahan bakar yang bersih dan efisien. Hal ini mirip dengan pengembangan teknologi lampu hemat energi seperti LED yang mengoptimalkan sumber daya agar lebih ramah lingkungan dan efisien.
- Ungkapan "cahaya di atas cahaya" dapat dikaitkan dengan inovasi pencahayaan modern seperti lampu LED dan serat optik, yang tidak hanya menerangi tetapi juga memberikan efisiensi tinggi dengan konsumsi daya rendah. "Cahaya di atas cahaya" dalam tafsir ilmu bisa dikatakan sebagai tumpukan cahaya. Seperti ungkapan "buku di atas buku", berarti tumpukan buku-buku. Dalam percobaan, cahaya monokromatik yang masuk pada prisma maka akan dibiaskan dengan menghasilkan tumpukan warna-warna, seperti halnya proses pelangi.
Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari ayat ini dan terus mengembangkan teknologi yang membawa manfaat bagi umat manusia. Cahaya adalah simbol ilmu dan petunjuk, dan sudah sepatutnya kita menerangi dunia dengan ilmu yang bermanfaat. Wallohu'alam.